Oleh: Rudy Gunawan (Koordinator Sub-Divisi Blog MedKom KEMANT periode 2010-2011)

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” – Minke, Rumah Kaca: 352

Pramoedya Ananta Toer ‘berbicara’ lewat mulut Minke mengenai vitalnya jejak tertulis tak hanya dalam kehidupan pribadi seseorang, tapi juga peradaban umat manusia. Orang boleh berujar, gambar lebih bermakna ketimbang seribu kata. Namun tulisan dapat melukiskan kebudayaan manusia yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tulisan merupakan rekam jejak kebudayaan yang tak ternilai harganya.

Sejak baehula manusia sudah mencoba mendokumentasikan pengalaman hidupnya lewat tulisan. Dari yang paling sederhana lukisan-lukisan di gua, ukiran aksara di batu, Musa memahat Sepuluh Perintah Tuhan, para mpu berjibaku dengan lontar, orang Eropa menulis dengan bulu angsa, Gutenberg dengan mesin cetaknya, hingga penemuan termutakhir komputer di abad ke-XX. Pujo Semedi pernah berujar, kira-kira, “ingatan manusia itu terbatas, karena itu manusia harus menulis.” Manusia menulis karena ia adalah makhluk yang terbatas. Manusia juga membutuhkan lebih dari sekadar media lisan untuk mewariskan pengetahuannya.

Di lain pihak, perkembangan zaman selalu menuntut adanya perubahan. Lebih tepatnya adaptasi, juga menambal ‘lubang-lubang’ kelemahan dalam bentuk sebelumnya. Ini memang pandangan yang sangat bersifat Darwinian. Dalam bentuk fisik, tulisan-tulisan sangat rentan punah terlebih lagi jika jumlahnya yang terbatas. Sejarah pernah berbicara, bagaimana sebuah warisan kebudayaan musnah akibat pembakaran perpustakaan-perpustakaan di Baghdad oleh tentara Mongol pada abad pertengahan. Saat ini manusia lebih membutuhkan sesuatu yang menyerupai kekal, hampir tak terbatas sifatnya, ketimbang buku-buku yang dicetak jutaan eksemplar.

Internet hadir di sana. Orang merasa tak perlu lagi pergi ke dukun untuk sekadar mengetahui penyebab sakit gigi yang dideritanya. Semua dicari di ranah daring, dalam jaringan. Internet membuat sekat-sekat dunia menjadi rubuh. Dunia yang tanpa batas tercipta di akhir abad lalu.

Maka tulisan pun bertranformasi dari bentuk fisik menjadi data-data yang diolah oleh komputer lalu tersebar melalui jaringan internet ke seluruh dunia. Informasi termutakhir bersliweran di —yang disebut oleh kebanyakan orang— dunia maya. Sadar atau tidak, informasi-informasi yang terunggah ke internet itu akan menjadi arsip sejarah yang sangat berharga. Tak hanya catatan-catatan masa lampau yang saat ini didigitalisasikan lagi, namun juga momen-momen sekarang yang kronologinya lewat tuts kibor di-internet-kan.

Empat puluh enam tahun sudah usia KEMANT. Sejak dilahirkan tepat setahun sebelum peristiwa besar Gestapu/Gestok meledak, KEMANT telah berbuat hal yang tak sedikit. Sebagian di antaranya mungkin terdokumentasi lewat tulisan, foto, video, atau hanya terekam di memori pelakunya. Namun bisa jadi sebagiannya lainnya terlupakan, juga tak tercatat.

Sejak beberapa tahun silam KEMANT mencoba untuk berbenah. Dokumentasinya tak lagi berbentuk cetakan fisik. Tak jua data tulisan, foto, atau video yang mendekam di dalam sebuah, atau beberapa, komputer saja. KEMANT mencoba mengejar mobilitas manusia yang bergerak cepat ke segala penjuru dunia. Atas dasar inilah didirikan Sub-Divisi Blog yang berada di bawah komando Divisi Media dan Komunikasi KEMANT. Sebuah sub-divisi yang diharapkan mampu tak hanya membuat KEMANT tak lagi seperti katak dalam tempurung, yang hanya diketahui oleh anggota-anggotanya. Sebuah sub-divisi yang menjadi media dokumentasi universal, hadir di dunia internet sehingga dapat disaksikan oleh siapa saja, termasuk mereka yang pernah memiliki kenangan manis bersamanya.

Beberapa tahun bergelut dengan sebuah niat sederhana itu, akhirnya pada permulaan tahun 2011 langkah pertama ditapaki dengan lahirnya situs internet ini. Situs yang masih kosong, belum terisi apa-apa. Hanya berharap pada waktu dan manusia-manusia yang mencatat pengalaman hidup kolektif mereka bersama keluarga KEMANT.

Perlahan tapi pasti jejak KEMANT sudah terekam dalam ranah daring, semua orang di mana saja bisa melihat perkembangannya. Maka boleh jadi KEMANT —meminjam istilah penyair Saut Situmorang— seperti tuhan warung makan Padang, ada di mana-mana!

***

Catatan: Terimakasih kepada komputer tangguh di Laboratorium Antropologi, di mana situs ini diolah, dilahirkan, dan dirawat…

 

3 Responses to Sebuah Warung Makan Padang Bernama KEMANT

  1. Dano Nugraha mengatakan:

    Selamat atas berdirinya website Kemant ini. Semoga menjadi ajang kompetisi sehat sesama mahasiswa jurusan Antropologi maupun jurusan lain. Juga semakin menyebarluaskan Antropologi

  2. Ditta Putri mengatakan:

    mantab,,mantab….selamat untuk Kemant yang punya blog segagah ini,semaki maju, dan informatif :)

  3. Boe-Boe mengatakan:

    MANTAP JAYA CIAMIK SORO…. :D

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>